>SALEH ITU PANTAS

>Oleh: Ahmad Tohari

Suatu hari dulu, Paman bertanya kepada saya dengan wajah serius. “Mengapa dari lima anakmu hanya satu yang kamu masukkan ke sekolah agama? Apakah kamu tidak ingin yang empat menjadi anak saleh?” Pertanyaan itu membuat saya agak tergagap. Apalagi mata Paman terus menatap saya seakan menuntut agar saya segera memberinya jawaban.

Mungkin karena daya kejutnya. Atau karena sebenarnya saya sama dengan kebanyakan orangtua yang jelas ingin semua anak saya menjadi manusia yang saleh dan shalihah. Jadi pertanyaan Paman adalah sesuatu yang tak terduga.

“Paman, setiap orang ingin punya anak-anak yang saleh dan shalihah. Saya juga demikian,” jawab saya. “Kalau begitu mengapa empat anakmu kamu masukkan ke sekolah umum? Bagaimana mereka bisa menjadi anak saleh?”

Pertanyaan lanjutan ini pun membuat saya tergagap. Tapi sekaligus memperjelas situasi yang sedang saya hadapi. Rupanya Paman berangkat dari dasar pemikiran bahwa kesalehan hanya berkaitan dengan perilaku keagamaan. Agaknya, menurut Paman, orang saleh adalah orang yang rajin dan taat menjalankan ritus-ritus keagamaan. Dan watak itu hanya bisa dibangun melalui pendidikan agama yang formal.

“Paman, saya akan memberi pendidikan agama kepada mereka di rumah. Juga dengan bimbingan berperilaku serta bacaan-bacaan. Doakan saja agar anak-anak saya kelak bisa memenuhi harapan Paman.” Paman tidak bertanya lagi. Tapi saya tahu dia kurang puas. Wajahnya mengatakan demikian. Bahkan akhirnya saya menyadari bahwa Paman tidak sendiri.

Masyarakat umumnya memahami kesalehan hanya berkaitan dengan ketaatan kepada ritus. Dalam istilah KH Mustofa Bisri, inilah kesalehan atau kepantasan ritual yang selalu diutamakan dalam pengamalan agama namun kurang diimbangi dengan kesalehan lain yakni kesalehan sosial.

Dalam suatu kesempatan, KH Mustofa Bisri duduk menjadi panelis bersama Drs Kholik Arief MSi yang kini menjabat sebagai bupati Wonosobo. Jateng. Kiai seniman bertemu santri intelektual yang birokrat. Tapi juga bisa dikatakan, Gus Mus adalah guru bagi Arief. Apalagi yang terakhir ini adalah anak seorang kiai. Dan entah bagaimana mulanya pembicaraan mereka merambah ke masalah tadi: Kesalehan.

“Dalam bahasa Arab, saleh berarti pantas,” ujar Gus Mus. “Jadi kalau Mas Arief melakukan shalat Duha pada saat dia harus melakukan tugasnya sebagai bupati, itu tidak pantas. Itu tidak saleh!”

Mendengar penjelasan Gus Mus, banyak orang menegakkan kepala. Saya ikut terpana karena merasa mendapat sesuatu di luar kerangka berpikir yang lazim. Saya sebut demikian karena kita terbiasa berpikir, seorang bupati yang rajin melakukan shalat Duha, tak peduli pada jam kerja yang sibuk, adalah bupati yang saleh.

Mungkin kita juga tidak akan berbuat apa-apa bila ada dokter misalnya, meninggalkan pasien untuk mendengarkan ceramah keagamaan karena kita menganggap dokter tersebut sedang menjalankan kesalehan. Namun, dengan penjelasan Gus Mus itu kita diingatkan bahwa saleh berarti pantas.

Kesalehan adalah kepantasan, kepatutan. Jadi pelayan publik seperti bupati atau dokter yang saleh adalah mereka yang selalu memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat dalam bidang yang menjadi tugas mereka.

Dan kesalehan dalam keagamaan? Jawabnya ada pada riwayat ketika Kanjeng Nabi menegur seorang pemuda yang menghabiskan waktu terlalu lama di siang hari untuk berdzikir di masjid. Pastilah Kanjeng Nabi tidak akan menegur apabila beliau menilai yang dilakukan oleh pemuda itu termasuk salah satu kesalehan beragama. Jadi dalam melakukan ibadah pun saleh berarti pantas, sepantasnya, sepatutnya.

Kembali ke pertanyaan Paman. Saya tidak tahu apakah Paman ingin anak-anak saya menjadi anak ”saleh” seperti pemuda yang ditegur oleh Kanjeng Nabi itu. Mudah-mudahan tidak. Tapi saya yakin Paman lebih suka kelima anak saya masuk pondok atau menempuh pendidikan agama sampai ke perguruan tinggi untuk mencapai kesalehan.

Sepertinya Paman tidak akan menganggap empat anak saya termasuk saleh meskipun nanti mereka menjadi sarjana-sarjana ilmu umum yang berlaku pantas dalam menjalankan profesinya, serta mau berdoa untuk kedua orangtua. Ah, Paman; meski begitu semoga Paman sekarang berada dalam rahmat Allah di alam kubur. Amin.

Arsip: http://muhammad-abid.blogspot.com/2008/09/saleh-itu-pantas.html

About ceritadewasagabrud

cerita cerita porno dewasa hahahahha
This entry was posted in Kisah Anak SMP. Bookmark the permalink.

3 Responses to >SALEH ITU PANTAS

  1. Cerita Tugu says:

    >kadang ada perbedaan pandangan tapi tujuannya baik kok

  2. >Aku juga terpana dg teguran pd bupati yg menjalankan sholat dhuha disaat harus melakukan tugasnya sebagai bupati

  3. >Jadi… saleh itu pantas. Terima kasih utk infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s